Minggu, 11 Oktober 2009

bergugurannya media cetak

Media cetak berguguran itu hal yang alami. Ini bagian dari seleksi alam. Jangankan media cetak yang single fighter, yang dari kelompok media besar juga banyak yang tutup. Hanya saja, mungkin tidak diekspos, apalgi yang didaerah. Di Grup Jawa Pos ada beberapa yang tutup seperti Tabloid Berlian, Tabloid Gugat, Tabloid Oposisi. Juga beberapa harian lokal seperti Glodok Standar Jakarta. Harian Indonesia Daily News di Surabaya, harian Semarang Post dan sebagainya. Memang persentase kegagalannya relatif kecil dibanding yang telah eksis.Hal tersebut dikarenakan kurang berjalannya management di dalamnya dal hal faktor modal dan juga siapa target yang dituju.Ditambah berkembangnya teknologi informasi yang berkembang sangat pesat dan bermunculan media-media online, bahan dalam satu media memiliki dua buah jenis berita salah satunya adalah kompas, selain memiliki media cetak kompas juga memiliki media online sehingga dapat dinikmati melalui cetak dan online yang bersifat nasional, sehingga media-media yang cenderung bersifat lokal cenderung kallah saing dengan media-media beser yang telah eksis sehingga mengalami penurunan oplag sehingga kahabisan modal dan gulung tikar.
Selain gulung tikar, ada juga yang ganti baju. Misalnya, dulu ada harian Radar Tangerang sekarang menjadi Satelit News.
Nah, nasib media cetak sekarang juga masih dipertanyakan. Berapa lama lagi umur media cetak secara keseluruhan?. Sebab, dengan era informasi yang cepat dan instant, orang dapat mengetahui berbagai peristiwa dunia hanya dalam beberapa menit atau detik. Tidak harus menunggu esok pagi. Ada internet yang bisa diakses dari HP, ada SMS, ada tv (nasional/lokal), radio dan sebagainya.
Lantas bagaimana mensiasati agar media cetak masih panjang usia? itu yang harus dijawab teman-teman media cetak.